Beranda    /    Kegiatan    /    Paseduluran dan Perkawanan di Layar Tanjleb

Kegiatan

Paseduluran dan Perkawanan di Layar Tanjleb

Oleh: Bowo Leksono
29 Juni 2017

Layar tanjleb merupakan pemutaran film dengan media layar lebar atau kain putih dengan ukuran lebar yang dibentangkan menggunakan bambu atau kayu kemudian ditancapkan dengan sisi kanan-kiri ditarik tali.  Digelar  di ruang-ruang terbuka,  menampung sebanyak-banyaknya penonton. Istilah lain layar tanjleb yaitu misbar (gerimis bubar), saat film sedang diputar kemudian turun hujan, penonton akan bubar karena kehujanan.

Kata tanjleb sendiri merupakan bahasa Banyumasan dari kata tancap, yaitu menancapkan suatu benda ke tanah. Karenanya kata layar tanjleb digunakan sebagai salah satu program pemutaran.

Layar Tanjleb menjadi program pemutaran bagi Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga sejak 2006. Sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan Pemerintah Kabupaten Purbalingga yang tidak bijak yaitu pelarangan Program Bioskop Kita di gedung Graha Adiguna (Oproom) di komplek Pendapa Kabupaten Purbalingga.

Program Bioskop Kita bertujuan mendekatkan film kepada penontonnya dengan cara warga mendatangi tempat pemutaran. Karena ada pelarangan menggunakan fasilitas negara yang dibangun rakyat, kami nekat jemput bola, mendatangi warga membawa suguhan film.

Ketika itu, ada 10 titik desa di wilayah Kabupaten Purbalingga yang disambangi melalui jaringan paseduluran  (persaudaraan - red) dan perkawanan. Warga sangat antusias dengan program layar tanjleb, kami pun merasa puas.

Perlawanan berlanjut di tahun 2007 dengan kelahiran Festival Film Purbalingga (FFP) yang saat itu masih bernama Parade Film Purbalingga. Program Layar Tanjleb ada di setiap gelaran FFP. Bermodal paseduluran dan perkawanan, hampir tak pernah menemukan kendala terkait lokasi.

Tak berhenti disitu, Layar Tanjleb juga menjadi salah satu usaha bisnis. Bagi warga yang mempunyai hajatan berupa; sunatan, mantenan, pengajian, ulang tahun, reuni, dsb, dapat memakai jasa layar tanjleb.

Layar Tanjleb kemudian menjadi program unggulan mulai gelaran FFP 2011. Selama tiga pekan, hampir tiap malam, kami berkeliling ke sekitar 20an desa di wilayah Banyumas Raya (Kabupaten Purbalingga, Banyumas, Cilacap, dan Banjarnegara).

Meriahnya program unggulan Layar Tanjleb di FFP ini karena pada prinsipnya, kami tak sekedar datang ke desa, lalu menancapkan layar dan memutar film. Ada survei yang dilakukan jauh hari sebelumnya berdasarkan permintaan maupun penawaran.

Ada syarat mutlak, yaitu keberadaan kelompok anak muda dalam bentuk apapun, bisa Karang Taruna, Remaja Masjid, atau sekedar kumpulan pemuda desa sebagai panitia lokal. Rasa paseduluran dan perkawanan harus tetap dijunjung tinggi.

Saat survei lokasi, kerap tak hanya dibutuhkan sekali datang. Biasanya kami turut terlibat dalam pertemuan-pertemuan kelompok pemuda untuk mempersiapkan program Layar Tanjleb. Apa saja yang bisa dipersiapkan panitia lokal dan apa saja yang bisa kami persiapkan, saling melengkapi, tanpa berembuk rupiah.

Proses berjalannya Program Layar Tanjleb merupakan pembelajaran bersama, bagaimana mengelola kegiatan yang mendatangkan banyak orang. Pengelolaan bagaimana mengelola sebuah pemutaran film dengan segenap tantangannya. Proses memperkenalkan film-film lokal pada warga lokal yang selama ini dijejali cerita-cerita tanpa logika di layar televisi.

Sekitar dua, tiga tahun terakhir gelaran FFP, promo Program Layar Tanjleb langsung diserbu warga untuk mendaftarkan desa atau kelurahannya. Bahkan kerap pendaftar melebihi kuota, namun tetap ditampung, karena belum tentu sesuai kriteria saat survei.





Baca juga