Beranda    /    Kegiatan    /    CLC Purbalingga di 28th Singapore International Film Festival

Kegiatan

CLC Purbalingga di 28th Singapore International Film Festival

Oleh: Admin
24 Oktober 2017

Reformasi 1998 berimbas pada hampir semua lini kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan jatuhnya rezim Orde Baru, masyarakat yang selama 32 tahun dibatasi gerak hidupnya mendapat kesempatan untuk mengeluarkan semua ekspresinya tanpa harus takut dicap subversif, film tidak terkecuali.

Salah satu penanda sinema Indonesia pasca Orde Baru adalah kemunculan komunitas-komunitas film. Industri film nasional yang relatif Jakarta-sentris mulai diwarnai dengan kehadiran karya film yang diproduksi oleh komunitas-komunitas di luar Jakarta, baik yang berbasis kampus maupun bukan. Dibubarkannya Departemen Penerangan pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang selama ini menjadi momok tersendiri bagi kebebasan berkekspresi pada masa Orde Baru ,  membuat pembuat film asal daerah mulai berani untuk menunjukkan karya mereka tanpa takut diintimidasi. Didukung dengan munculnya milis yang menjadi ruang komunikasi pegiat film dan juga berkembangnya teknologi produksi dan eksebisi film yang semakin mudah diakses oleh orang diluar industri dan sekolah film.

Bandung dan Yogyakarta, selain Jakarta tentunya, adalah kota-kota yang cukup produktif dalam membuat karya film pendek. Tercatat juga beberapa komunitas lahir di berbagai kota, yang hampir semuanya bertujuan sebagai ruang berkomunikasi orang-orang yang tertarik dengan film, utamanya film pendek. Beberapa di antaranya, : Konfiden (Jakarta), Architecture & Communication (Bandung), Minikino (Denpasar), Fourcolours Films (Yogyakarta), Independen Film Surabaya, Kronik (Semarang), Kelompok Lima Enam (Yogyakarta), Rumah Sinema (Yogyakarta), dan beberapa komunitas lain, baik yang berbasis kampus (Kine) maupun bukan. Kehadiran komunitas film yang beragam tidak hanya terfokus pada bidang produksi, tetapi juga ada komunitas yang fokus pada kajian, pemutaran, maupun pengarsipan.

Euforia kemunculan komunitas film ini juga masuk ke Banyumas Raya, khususnya di Purwokerto, ibukota Kabupaten Banyumas. Ada komunitas Youth Power yang muncul di lingkungan kampus Universitas Jenderal Soedirman. Komunitas yang didirikan oleh Dimas Jayasrana ini bisa dibilang sebagai pionir komunitas film di Banyumas Raya, yang saat itu masih berkutat di wilayah Purwokerto. Dari 2002 sampai dengan 2005, Youth Power mengadakan rangkaian kegiatan pemutaran film dan juga diskusi dengan tajuk Pesta Sinema Indonesia. Program tersebut menayangkan film film pendek karya sineas Banyumas Raya, termasuk dari Purbalingga. Bisa dibilang Pesta Sinema Indonesia lah yang mendorong produksi film di wilayah Purbalingga. Sineas Purbalingga menemukan media baru untuk menunjukkan karyanya, terlebih program ini berada di wilayah Banyumas Raya, Peronika, sutradara Bowo Leksono adalah salah satu film yang diproduksi karena efek program ini.

 Selepas dibubarkannya Youth Power pada Desember 2005, muncullah beberapa komunitas lain di wilayah Banyumas Raya, diantaranya Cinema Lovers Community Purbalingga berdiri pada 2006 dan Arisan Film Forum Purwokerto, yang anggotanya ikut berproses bersama Youth Power, berdiri pada 2007, sedangkan Sangkanparan Cilacap sudah berdiri pada 2004. Sampai pada 2007, komunitas-komunitas tersebut sepakat untuk membentuk sebuah asosiasi bernama Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) dengan berbadan hukum yayasan.

Di Purbalingga, tidak ada dokumentasi pasti film pendek apa yang pertama kali diproduksi, sehingga penulis menganggap bahwa film Orang Buta dan Penuntunnya yang disutradarai Bowo Leksono sebagai film pendek pertama di Purbalingga. Film yang dibuat pada 2004 ini menjadi cikal bakal perkembangan film pendek di Purbalingga. Pada tahun itu, produksi film di Purbalingga masih mandiri dan bersifat individual, kebanyakan karya film lahir dari pekerja dokumentasi pernikahan atau tukang suting manten. Baru pada 2006, pembuat film Purbalingga membuat komunitas CLC Purbalingga sebagai wadah berkomunikasi para pembuat film di Purbalingga. Awal pembentukan CLC Purbalingga sendiri merupakan komunitas berbasis produksi, sehingga awalnya CLC Purbalingga fokus pada produksi film di Purbalingga dengan melibatkan pekerja seni lain maupun pelajar. Pada 2007, CLC Purbalingga mengadakan Parade Film Purbalingga yang dimaksudkan sebagai media baru bagi pembuat film untuk menunjukkan karyanya ke khalayak umum, Parade Film Purbalingga inilah yang kemudian hari berganti nama menjadi Festival Film Purbalingga, program Festival yang rutin diselenggarakan CLC Purbalingga setiap tahun, yang di tahun 2017 ini merupakan penyelenggaraan ke-11.

Setelah terbentuknya CLC Purbalingga, perkembangan film pendek di Purbalingga semakin pesat terutama di kalangan pelajar. Sedari awal CLC menargetkan pelajar, terutama tingkat SMA/SMK sebagai basis pendidikan film pendek di Purbalingga, baik yang formal dalam bentuk esktrakurikuler maupun non- formal. CLC Purbalingga yang di awal lebih banyak berkutat di bidang produksi, mengingat potensi film pelajar yang semakin meyakinkan lambat laun lebih banyak melakukan program-program yang memfasilitasi pelajar untuk berproduksi. Diantaranya workshop, pemutaran, pengarsipan, dan puncaknya Festival Film Purbalingga yang digunakan sebagai ajang berkompetisi film produksi pelajar di Banyumas Raya, CLC Purbalingga juga mendistribusikan film pelajar Purbalingga untuk disebarkan ke penonton di luar Purbalingga.  Setiap tahunnya tercatat kurang lebih sepuluh film dokumenter maupun fiksi bisa diproduksi pelajar Purbalingga, dengan berbagai ide maupun isu yang coba mereka tampilkan. Beberapa sekolah juga sudah mulai mendirikan ekstrakurikuler sinematografi untuk mewadahi potensi pelajar yang selama ini tidak bisa disalurkan.

Pada 2006, Pemerintah Kabupaten Purbalingga melarang CLC Purbalingga menggunakan salah satu gedung Pemkab yang dianggap representatif, Graha Adiguna (Oproom) yang saat itu memang digunakan CLC Purbalingga untuk program Bioskop Kita. Padahal, pada saat yang sama, CLC Purbalingga baru memulai mengenalkan film karya pembuat film Purbalingga. Pelarangan tersebut berujung ke perumusan ulang strategi CLC Purbalingga dalam berkegiatan. Dipilihlah pendekatan baru yang lebih proaktif: layar tanjleb (layar tancap). Sebagai sebuah upaya pemanfaatan ruang publik, layar tanjleb dianggap paling efektif untuk mendekatkan film Purbalingga dengan masyarakatnya. Apalagi dengan selalu adanya tanah lapang di setiap desa maka layar tanjleb menjadi tontonan yang selalu ramai dan dinantikan oleh masyarakat Purbalingga dan juga Banyumas Raya.

Setiap penyelenggaraan layar tanjleb biasanya selalu diikuti dengan kehadiran para pedagang kecil. Bagi para pedagang, juga bagi CLC Purbalingga selaku penyelenggara, layar tanjleb merupakan kesempatan yang baik untuk meningkatkan pendapatan pelaku ekonomi mikro, seperti pedagang makanan kecil, mainan, dan pakaian

Tanggapan positif dari warga meyakinkan CLC Purbalingga untuk menjadikan layar tanjleb sebagai salah satu agenda. Sejak 2011, layar tanjleb menjadi program utama Festival Film Purbalingga. Dari sebulan pelaksanaan festival, tiga minggu pertama dialokasikan untuk layar tanjleb keliling ke 18 sampai 20 desa di Banyumas Raya. Setiap tahunnya ribuan penonton terkumpul melalui hiburan gratis yang disajikan melalui layar tanjleb Festival Film Purbalingga.

 Semenjak dibentuknya CLC Purbalingga pada 2006, sudah lebih dari dua ratus film yang diproduksi di Purbalingga. Puluhan di antaranya, bahkan mungkin lebih, pernah mendapatkan berbagai penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional. Dari ratusan film yang diproduksi, Sudah puluhan pembuat film pelajar yang CLC Purbalingga fasilitasi, dan sudah belasan sekolah baik SMP maupun SMA/SMK yang menjadikan sinematografi sebagai salah satu potensi yang harus dikembangkan,  Sudah ratusan desa yang CLC Purbalingga singgahi dalam program layar tanjleb, dengan ribuan masyarakat Banyumas Raya yang dengan gembira menikmati film karya pelajar Purbalingga maupun Banyumas Raya.

Pada penyelenggaraan 28th Singapore International Film Festival, dalam program Focus – Histories of Tomorrow : Indonesian Cinema After The New Order, CLC Purbalingga mendapat kehormatan untuk berbagi cerita tentang perjalanan berkomunitas dan memfasilitasi pelajar Purbalingga menjadi pembuat film pendek. Rencananya, Direktur CLC Purbalingga, Bowo Leksono akan datang langsung sebagai narasumber dalam diskusi panel film Indonesia pasca reformasi. Dan juga akan diputar dua film dari Banyumas Raya, yaitu Ijolan (sutradara Eka Susilowati) dan Urut Sewu Bercerita (sutradara Dewi Nur Aeni). Selain itu film Balada Bala Sinema (sutradara Yuda Kurniawan) yang menceritakan perjalanan CLC Purbalingga juga akan turut diputar di sesi ini. 





Baca juga